Archive for January 17th, 2008
Top 10 Ways to Introduce Vocabulary
Top 10 Ways to Introduce Vocabulary
From Tania Iveson
Teachers often explain new vocabulary to learners. Lexical items can include single words (house), collocations (make a bed) and longer chunks (once in a blue moon).
To illustrate meaning, our default mode is often to give a definition. With definitions, drawbacks include a lack of context, a need to use equally complex terms, and the temptation to provide other meanings of new words.
As teachers, we can add other ways of teaching lexis to our “teaching tool belt.” For students, the method we choose to illustrate is often the key to making the item meaningful and useable. Here are ten ways to illustrate lexis.
1. Synonyms
Using items with a similar meaning can be useful. Adjectives such as intelligent have several synonyms: bright, smart, clever. Phrasal verbs usually have a non-phrasal verb equivalent: go off – explode. Teachers should be wary of saying that items have the same meaning. Often, the meaning is close, but there are differences in formality, connotation, and grammatical usage.
zSB(3,3) Sponsored Links
Learn from Home.100% online M.Ed., D.Ed. & PhD degrees in education.www.ncu.edu
2. Antonyms
Opposites are a common way to present and learn the meaning of new lexis. At lower levels, items such as rich and poor are obvious examples. Again, teachers should be mindful of making generalizations. Rich people and poor people are opposites, but rich food and poor food are not. Collocations are helpful here. At higher levels, prefixes and suffixes are excellent for vocabulary building through opposites e.g. helpful and unhelpful.
3. Drawing
The most basic sketch or stick figures can provide the perfect medium to illustrate certain items. Some good examples include geographical terms like estuary or peninsular, statistical features of graphs like peak, trough, or go through the roof, and physical terms such as back-to-back. Artistic skills are not required!
4. Points on a scale
A scale is an excellent way to illustrate the meaning of several gradable items at the same time. Common examples include adverbs of frequency: never-rarely-occasionally-sometimes, or adjectives of fear: apprehensive-nervous-scared-terrified. Less common items such as petrified can be added to the scale at higher levels. Where appropriate, teachers can add useful information such as prepositional usage on the scale. For example: nervous about and scared of.
5. Cuisenaire rods
These coloured blocks are wonderful teaching aids, and are especially useful for certain lexical areas. Key examples include prepositions of place: on, under, between, among, comparison of adjectives: bigger than, the smallest, twice as big as. Blocks can also represent items in a narrative to act as a visual aid to comprehension.
6. Pictures
For pre-planned teaching of lexis, taking pictures to class can convey a great deal of lexical information very quickly. Nouns and verbs relating to specific places such as kitchens, airports or offices work well with pictures. Parts of machines or living creatures show well in picture format too. Of course, having internet access in the classroom will provide many pictures through sources like Google images.
7. Mime
Mime, often overlooked by teachers, is extremely effective for many items. Instead of defining proud, fold your arms as if carrying a newborn, puff out your chest and whisper, “My son”. Then ask the class how you feel and provide the word if necessary. Another useful exercise is to mime an everyday routine such as getting ready for work, driving, or preparing a meal. Ask students to jot down any verbs they see. This is an excellent test of recall and a good needs-analysis activity.
8. Sound
Making the sound is a quick and easy illustration of many words: whistle, groan, howl, clear one’s throat, snap your fingers etc. Recordings of sound effects are an evocative way of bringing less familiar lexis into the lesson. Listening to a sequence of sounds such as rustling, scratching, tapping, and tinkling glass provides clear illustration, a need to describe the sound, and an effective way of fixing the concept in the student’s mind.
9. Total physical response (TPR)
Aspects of this approach to language learning can help students take control of new language. After illustrating physical lexis such as stare, peer, glance, and blink, the teacher can ask students to perform the action after the words are given. This can be used for more complex items such as peel an apple and change a tire.
10. Realia
Where practical, bringing the actual item to class provides an unmistakeably clear illustration of an object. This can also provide a useful stimulus to a lesson. On a slightly more ambitious scale, asking students to teach other students how to perform a task using realia can be very motivating and memorable. Examples include how to prepare a salad, how to send a text message using a particular cellphone, and how to play a card game.
This is not an exhaustive list. The most important thing is to anticipate what lexis you might have to clarify and then choose the technique(s) that best helps illustrate meaning.
Suggested Reading
What are Multiple Intelligences?Activate Multiple IntelligencesBrain Learning Styles
Related Guide Picks
Top 10 Teaching TipsQuotes on ReadingInternational Edutravel
Other Related Resources & Guide Picks
What is your learning style?US Learning VacationsEduTech Tips
Related Articles
Online Learning Course Review – PEAK English Course Rev…Accelerative Integrated Method (AIM) – Foreign Language…Differentiated Instruction Meets Needs of Diverse Stude…Top Ten Tips for Student TeachersTop 12 Worst Things a Teacher Can Do
if(zp[12].d){w(‘
‘);Dsp(zp[12],’ip’);w(‘
‘)}if(zp[13].d){w(‘
‘)} zISblo=this.zISblo?this.zISblo:0;if(zSbL<1&&zTt!=’33′){zSbL=3+zISblo;zSB(2);zSbL=0}else zSB(2) Sponsored Links
Learning MaterialsBusiness & Management HNC HND CMS DMSwww.stratbiz.co.uk
ESL Lesson PlansPDF lesson plans, mp3 listenings & color flashcards. $25 membership.esl-lounge.com
Add comment January 17, 2008
Miskin dan Kaya
Miskin dan Kaya
Ada orang kaya yang miskin, ada orang kaya yang kaya, ada orang yang miskin yang miskin, dan ada orang miskin yang kaya.
Uang dan materi itu tidak kotor, tidak jelek, tidak racun. Boleh dicari, boleh disimpan, tetapi jangan dipandang sebagai milik, jangan dipandang sebagai harta. Uang dan materi harus dipandang sebagai sarana atau alat. Sarana untuk melakukan amal kebaikan. Kalau saya mempunyai uang lebih banyak, tentu saya mempunyai sarana untuk melakukan amal kebaikan lebih banyak. Kalau saya mempunyai kendaraan, saya mempunyai sarana untuk melakukan amal kebaikan yang lebih banyak ketimbang saya tidak mempunyai kendaraan.
Jadi kalau orang-orang mampu yang merasa dirinya kaya, atau yang disebut kaya, bisa menggunakan materinya iotu sebagai alat untuk melakukan kebaikan, itulah orang kaya yang sungguh kaya: kaya materi dan kaya kebajikan!.
Tetapi, orang kaya yang sebenarnya miskin akan memandang materi atau uang yang didapat itu sebagai milikku atau hartaku.
Materi itu bersifat netral. Pisau itu netral, bukan bersifat jahat dan juga bukannya baik. Hanya bagaimana kita mempunyai sudut pandang yang benar terhadap materi. Materi jangan dipandang sebagai milik atau kekayaan, pandanglah sebagai alat atau sarana.
Orang miskin yang berusaha menjadi orang mampu dengan cara jahat, itulah orang miskin yang benar-benar miskin. Tetapi, orang yang miskin materi, yang berusaha untuk memberikan kebaikan pada masyarakat, sesuai dengan kemampuannya, dialah orang miskin yang kaya. Miskin materi, tetapi kaya dengan kebajikan.
Kalau seseorang miskin materi, dia sendiri yang miskin. Akan tetapi, bila orang tega mengorbankan orang lain hingga orang lain itu menjadi miskin, kalau tidak dicegah dia bisa membuat korban yang lebih banyak lagi. Sesungguhnya kemiskinan moral itu jauh lebih berbahaya ketimbang kemiskinan materi.
Add comment January 17, 2008
Agama Buddha dan Ilmu pengetahuan
Agama Buddha dan Ilmu pengetahuan
Apakah hidup atau kehidupan itu?. Ini adalah pertanyaan yang sukar dijawab; dipandang dari sudut ilmu pengetahuan. Professor Rhodes menggambarkan hidup atau kehidupan itu sebagai suatu urut-urutan proses yang terjadi didalam tingkat-tingkatan tertentu, yang sifatnya komplek, dari organisasi zat Walaupun demikian, Agama Buddha (Sang Buddha tidak membicarakan tentang masalah sebab-dan-akibat), didalam membicarakan hidup atau kehidupan, yang merupakan suatu continuum (= sesuatu yang berlanjut terus), sesuai dengan doktrin Persebaban Yang Saling Bergantungan) (lihat di bagian lain dari artikel ini). Agama Buddha menunjukkan dengan jelas bagaimana suatu sebab itu menjadi akibat, dan suatu akibat itu lalu menjadi sebab. Menurut Yang Mulia Nyanaponike, didalam masalah phenomena mental (= gejala-gejala jiwa), unsur sebab itu tidak akan pernah menjadi unsur akibat, dan unsur akibat tidak akan pernah menjadi unsur penyebab; walaupun suatu unsur akibat itu mungkin menjadi suatu kondisi berbagai type-type gejala-gejala, tetapi tidak akan pernah menjadi suatu unsur sebab yang sifatnya produktif. Secara umum, Agama Buddha lebih suka mempergunakan istilah “kondisi” dan “kondisionalitas”. Sama seperti itu, didalam ilmu pengetahuan dan ilmu filsafat, istilah-istilah sebab dan akibat, itu merupakan istilah yang sangat disederhanakan, tetapi istilah-istilah tersebut, masih dipergunakan didalam maknanya yang populer.
Kelahiran dan kematian yang secara berulang-ulang dan berlanjut terus, yang dinamai “samsara”, itu telah digambarkan secara tepat, sebagai suatu cyclus atau roda. Tidaklah dapat kita bayangkan, dan adalah sangat sukar untuk menunjukkan titik permulaan didalam cyclys sebab dan akibat, yang demikian itu; oleh karena itu mengenai asal hidup atau kehidupan, yang paling pertama, Sang Buddha menerangkannya sebagai berikut : “Tanpa mengetahui tujuannya, didalam mengembara dalam kehidupannya secara berulang-ulang di dunia (samsara) ini, makhluk-makhluk yang hidup di saat permulaannya, itu berkeadaan terliputi oleh ketidak-tahuannya, dan terikat oleh keinginan-keinginannya; mereka mengembara kesana-kemari, tanpa mengetahui apa seharusnya yang wajib diperbuatnya.”
Hendaklah orang tidak cemas dan kecewa, karena merasa mengalami kegagalan, didalam mencari keterangan tentang titik permulaan dari suatu masa lampau yang tak-ber-permulaan. Hidup atau kehidupan, itu adalah suatu proses menjadi, merupakan suatu kekuatan, merupakan sesuatu yang mengalir terus menerus, dan keadaan yang demikian itu membutuhkan adanya suatu masa lampau yang tak berpermulaan, yang tidaklah perlu kita risaukan, apakah makhluk yang pertama itu adalah kera atau manusia.
Walaupun demikian, kita mengetahui bahwa hidup atau kehidupan, itu merupakan suatu kesatuan, dan bahwa semua makhluk-makhluk hidup, yang bermacam-macam jenisnya, yang jutaan, atau bahkan tak terhitung banyaknya itu, telah selama ribuan juta tahun sama-sama ikut menghayati proses kehidupan yang sama. Didalam peristiwa yang demikian itu, secara sekaligus, kita lihat adanya kesederhanaan dan keajaiban atau kehidupan.
Suatu penyelidikan yang dilakukan akhir-akhir ini, pada lapisan tanah bagian atas, setebal satu inch, dan seluas satu acre, yang terletak di dekat ibukota Amerika Serikat, menunjukkan bahwa tanah setebal dan seluas itu, berisi lebih dari 1.000.000 hewan-hewan microscopic, dan 2.000.000 benih-benih microscopic. Pada tanah setebal dan seluas tersebut diatas itu terdapat lebih dari 300.000 species (= jenis-jenis) tanaman hidup, dan 1.120.000 species hewan-hewan hidup, dan lebih dari tiga-per-empat-nya terdiri dari insect (= serangga), sedangkan hewan golongan tinggi atau yang telah bertulang belakang, membentuk hanya 5 persennya. Kira-kira 20 persennya terdiri dari golongan mollusc (= jenis keyong atau siput), dan lainnya golongan arthropod (= jenis hewan yang banyak kakinya) (serangga, kepiting, labah-labah, dan lipan), dan hewan golongan protozoa (= organisme-organisme yang ber-cel satu). Jadi, terdapat banyak sekali kehidupan dan ini merupakan faktor utama, didalam evolusi kehidupan. Seperti ditunjukkan oleh Charles Darwin, hal-hal yang demikian itu membimbing orang untuk mempercayai apa yang dinamai “Seleksi Alamiah” (= Natural Selection). Di alam ini, dengan hasil yang berlebihan dari organisme dan terdapatnya perjuangan hidup yang tak terelakkan, maka organisme-organisme yang paling kuat, yang paling menang, didalam menghadapi persaingan-persaingan hidup, dapat tetap hidup terus (= survival of the fittest), ini adalah theori umum dari seleksl alamiah.
Apabila kita memikirkan pengaruh Darwin pada pemikiran manusia selama 100 tahun terakhir ini, adalah layak untuk memperbedakan secara tajam antara evolusi sebagai suatu fakta historis dan theori operasional dari modifikasi didalam masalah penurunan jenis. Adalah merupakan yang pertama kalinya dari theori-theori ilmu pengetahuan, bahwa theori evolusi itu telah diterima oleh umum sebagai imaginasi yang populer, dan telah menggerakkan saat timbulnya Zaman Victoria, di Dunia Barat, dengan implikasinya terhadap filsafat keagamaan, dan di semua bagian dari dunia lalu membicarakannya sebagai suatu pukulan yang mematikan terhadap mythologi-mythologi yang bersifat takhayul dan tradisional, yang telah menyelimuti idea-idea dari semua bangsa, sebagai suatu keterangan tentang asal manusia, kecuali pandangan Agama Buddha.
Didalam proses evolusi, theori seleksi alamiah yang diperkembangkan oleh Darwin, adalah sangat penting. Selanjutnya Darwin menunjukkan bagaimana modifikasi sepanjang garis penurunan jenis itu berlangsung. Makhluk hidup telah ber-evolusi secara berlanjut dan melalui periode waktu, yang berurut-urutan, yang tiap periodenya memiliki type, tingkatan, dan susunan organisme hidup, yang khusus.
Julian Huxley menyatakan pendapatnya sebagai berikut : “Sistem alam adalah penyusunan genealogis dengan pencapaian tingkatan-tingkatan perbedaan, yang ditandai dengan istilah-istilah : varietas-varietas, species-species, genus-genus, family-family, dan order-order. Dan kita telah menemukan garis-garis keturunan, dengan ciri-ciri karakteristik yang paling permanen, apa pun ciri-ciri mereka itu, dan tidak perlu terpengaruh betapa kurang vitalnya ciri-ciri mereka itu.”
Susunan rangka yang terkenal dari tulang-tulang pada tangan-tangan, pada sayap-sayap dari kelelawar, pada sirip-sirip ikan hiu, dan ciri-ciri leher pada kuda, yang dibandingkan dengan sejumlah yang sama, pada hewan-hewan bertulang belakang, yang membentuk leher hewan jerapah dan gajah, segera terlihat telah menunjukkan benarnya theori keturunan jenis, dengan modifikasi-modifikasi yang perlahan-lahan, dan secara berurut-urutan.
Sejak tahun 1900 theori-nya Darwin telah diungkapkan kembali didalam istilah-istilah genetic yang memungkinkan kita memperoleh manfaat yang besar didalam pemahaman kita mengenai proses-proses penurunan warisan (= hereditas).
Pada tahun 1866 Gregor Mendel telah mempublikasikan karyanya yang termasyhur mengenal keturunan, yang memperkuat dan mengkonsolidasikan theori-nya Darwin. Faktor lainnya yang menolong didalam penerimaan theori seleksi alam, yang menciptakan species baru didalam alam, adalah mutasi. Namun ketepatan dari methode operasinya dari phenomena mutasi ini belum sepenuhnya dapat dimengerti. Contoh yang paling terkenal mengenai mutasi-mutasi yang demikian itu, yang dinamai variasi-variasi yang spontan (variasi tunggal dari Darwin), dengan mana varietas-varietas yang berbeda dan baru dari tanaman-tanaman dan hewan-hewan muncul. Hukum-hukum mutabilitas itu sangat berbeda dengan variasi-variasi individual. Yang disebutkan belakangan itu dikarenakan oleh faktor-faktor herediter.
Dinyatakan orang bahwa lama sebelum Darwin, orang telah mulai menolak ceritera dari Kitab Suci mengenai penciptaan. Satu demi satu, Darwin telah memperkembangkan idea-idea besarnya, yang kita assosiasikan dengan namanya, yaitu: seleksi alam, seleksi seksual, argumen-argumen dari domestikasi, studi-studi didalam penekanan penduduk, studi tentang variasi-variasi dan isolasi geografis; bukti tentang perbandingan anatomi dan embryologi, cara-cara hybridisasi, manfaat dari hybrid-hybrid, dan yang terakhir dari semuanya, adalah analisanya tentang jiwa dan moral. Tidak ada satu pun dari yang tersebut dimuka tadi, yang didalam sesuatu cara, bertentangan dengan ajaran Buddha Dhamma.
Darwin mempertahankan pendapatnya bahwa manusia itu berasal dari satu sumber tunggal, yang berupa hewan-hewan menyerupai kera, yang menghuni dunia kuno (= old world). Dia mempertahankan pendapatnya bahwa satu sumber tunggal tersebut lalu mengalami diversifikasi menjadi berbagai species-species atau bangsa-bangsa (= races). Mereka itu juga telah mengadakan adaptasi atau akklimatisasi (= penyesuaian-diri terhadap iklim) (dengan seleksi alam), untuk mempertahankan diri dari serangan penyakit-penyakit yang ada di daerah dimana mereka tinggal.
Evolusi didalam faktanya terjadi peristiwanya, paling jelas ditunjukkan oleh studi mengenai fossil-fossil. Penemuan fossil-fossil tulang-tulang hewan, yang dapat diperbandingkan dengan makhluk-makhluk yang masih hidup, dinamai palaentologi.
Adalah doktrin evolusi-lah, yang mula pertama dapat memberikan interpretasi mengenai sifat-sifat perubahan-perubahan fauna, dari fossil-fossil yang ada, yang diketemukakan oleh para ahli palaeontologi dan para ahli geologi. Seri-seri hewan-hewan yang menunjukkan adanya perubahan-perubahan evolusioner, yang paling meyakinkan adalah pada penemuan-penemuan hewan-hewan yang bertulang belakang. Suatu contoh klassik, yang tidak diketahui oleh Darwin, adalah perubahan secara setapak demi setapak dari kuda-kuda, selama 40 hingga 50 juta tahun, dari makhluk hewan, yang jari-jari kakinya ada empat, dan masih sangat kecil, dengan gigi-gigi yang masih primitif, hingga ke makhluk hewan yang kakinya berjari satu dan besar, dengan gigi gerahamnya, yang mewakili jenis family kuda yang hidup, di zaman sekarang ini.
Kita memiliki pengetahuan yang luar biasa kayanya tentang sejarah hewan-hewan menyusui (= mammal). Dapat ditunjukkan bahwa didalam proses perubahan setingkat demi setingkat yang meliputi keterangan suatu jenis makhluk, tentang besarnya tubuhnya, pertumbuhannya, kebiasaan cara memakannya, dari jenis babi, hingga jenis gajah. Perubahan-perubahan tersebut meliputi jangka waktu kira-kira 40 juta tahun. Kalau jenis kuda dan jerapah (= giraffe) dengan memperpanjang lehernya untuk mencari makanannya, maka yang terjadi pada hewan jenis gajah adalah dengan memperpanjang rahang bawahnya, untuk tujuan yang sama seperti pada jenis kuda. Julian Huxley berpandangan yang sama dengan pandangan Darwin yang berfikiran bahwa mungkin semua kehidupan yang ada ini berasal dari satu wujud yang aseli.
Professor Mannes Alfven dari Royal Institute of Technology, mempertahankan pendapatnya dengan mengatakan sebagai berikut : “Jawaban yang paling sederhana dan paling sympathic adalah bahwa secara alamiah, Tuhan, atau beberapa “Kekuatan” lainnya, itu mengarahkan perkembangan menuju ke tujuan tertentu didalam “membawa ke pencapaian mahkota kehidupan”, yaitu menjadi seperti kita ini. Dipandang dari sudut skala yang lebih luas, dengan hewan amoeba sebagai titik berangkatnya, perspektif yang dikemukakan, nampaknya lebih bersifat ilmiah, tetapi segera setelah kita meneliti hingga ke hal yang sekecil-kecilnya, kita dapat mengetahui bahwa konsepsi yang demikian itu tidak dapat dipertahankan. Pertanyaannya yang utama berbunyi : “Bagaimana caranya intervensi yang supernatural itu terjadi?. Sebab, apabila hukum-hukum alam itu, tanpa ada kecualinya, berkeadaan valid (= berlaku sah dan tidak dapat ditawar-tawar), maka tentu tidak ada tempat untuk adanya intervensi yang demikian itu.”
“Kita mulai dapat melihat bahwa keajaiban evolusi dari amoeba ke tingkat manusia, atau, kita tahu, tanpa perlu adanya keragu-raguan bahwa itu merupakan suatu keajaiban yang sangat mentakjubkan, dan bahwa evolusi yang demikian itu bukan merupakan hasil karya dari Sabda Yang Maha Perkasa dari Sang Maha Pencipta, tetapi adalah merupakan hasil pergabungan dari proses-proses kecil, yang tampaknya tidak berarti. Perubahan struktural itu terjadi didalam suatu molekul, pada chromosome-chromosome-nya, hasil dari suatu perjuangan untuk mencari makan, pada dua hewan, reproduksi dan kegiatan membesarkan anaknya, yang demikian itu adalah merupakan elemen sederhana, yang bersama-sama, didalam garis waktu sepanjang jutaan tahun, telah menciptakan keajaiban besar. Ini bukan merupakan sesuatu yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Suatu keajaiban itu bukan terpisah dari kehidupan yang biasa. Suatu keajaiban didalam kehidupan kita sehari-hari, itu hanya masalah apakah kita memiliki kemampuan melihat keajaiban itu, atau tidak.”
Sir Garvin mengemukakan pendapatnya sebagai berikut : “Lebih lanjut, dapatlah kita terangkan bahwa evolusi dan adaptasi dari tanaman-tanaman dan hewan-hewan, itu sering dikatakan pada desainnya, tujuannya, atau bimbingannya; namun didalam kenyataannya sering ada penyimpangan-penyimpangan, dan bencana-bencana, yang berada jauh dari desain, tujuan, dan bimbingan, sehingga hal itu mendorong kita untuk mencari keterangan-keterangan yang lainnya.”
Tidak ada entitas (= entity) yang keadaannya sedemikian rupa, yang dikatakan sebagai roh (= soul), (yang didalam Agama Buddha, diistilahkan dengan (“anatta”) pada manusia dan hewan-hewan. Menurut ajaran Agama Buddha, semua benda, baik makhluk hidup atau benda-benda mati, itu merupakan subjek yang terkena perubahan. Tidak ada yang bersifat permanen; semua benda itu muncul dan lalu lenyap; oleh karena itu, tidak ada entitas yang berkeadaan permanen didalam bentuk suatu roh atau self, yang terdapat didalam diri manusia atau didalam sesuatu yang lain.
Semua kehidupan di bumi ini berkeadaan saling bergantungan, yang satu terhadap yang lainnya, dan tidak berfungsi didalam isolasi atau keterasingan. Oleh karena itu, manusia dan hewan-hewan itu tidak bersifat dapat mencukupi dirinya sendiri, dan semua phenomena biologis itu bersifat tidak permanen dan mengalami perubahan-perubahan secara berlanjut terus, dan berada didalam suatu keadaan yang selalu mengalami keadaan yang mengalir (= continuous flux) (yang didalam Agama Buddha, diistilahkan dengan “anicca”), dan masing-masing dikondisikan oleh faktor-faktor lingkungan-sekitar. Dimana-mana, kita dapati konflik-konflik, dan konflik-konflik itu menunjukkan adanya sifat tidak memuaskan didalam kehidupan, atau untuk menggunakan istilah tehnis didalam Agama Buddha, “duhkha” (= penderitaan, keadaan sakit, dan kepedihan karena sakit badaniah, atau sakit kejiwaan).
Kejanggalan dari apa yang dinyatakan oleh Religi yang bersifat theistic, yaitu bahwa manusia dikatakan mempunyai roh, – yang diterangkan sebagai merupakan setitik kecil api dari Maha-Api Ke-Tuhan-an, dan merupakan suatu entitas yang tidak mengalami perubahan, didemonstrasikan dengan jelas dengan adanya organ tubuh, terutama jantung, yang dicangkokkan dari manusia satu ke manusia lainnya. Dr. Christian Barnard, seorang ahli bedah dari Afrika Selatan, yang telah melakukan pencangkokkan jantung manusia, yang pertama kali, meramalkan bahwa di masa-masa yang akan datang, jantung-jantung hewan dan organ-organ lainnya akan digunakan secara luas, sebagai pengganti organ tubuh yang sama pada badan manusia.
Rahula 2007
Add comment January 17, 2008
he ability to think and then express
It is the ability to think and then express those thoughts with the aid of language is the advantage of human race that is what has made him what he is now. These two characteristics of human species viz., thought and communication, conjoinedly put mankind into the trajectory of progression in the course of evolution. As civilizations grew and evolved, language too got refined and polished just like any other aspect of culture and society. Language stripped to its basic essence is not just a means to communicate. More rudimentary than this is its evolutionary advantage. It is what makes mankind the sovereign living being.
Words form the basic element of a language and in turn of communication. Medical transcription too is in fact a medium of communication. The transcript such produced by a medical transcriptionist is essentially a bridging link between the doctor and the patient, the patient and the hospital and the patient and insurance company. Medical transcription also needs acumen, particularly listening acuity, making it not only a written form of communication but also a heard form of communication between the doctor and the transcriber. It is therefore obvious that between a good pair of ears there is an alert and sharp mind. Words will not convey a message unless there is a logical interconnection and bond between them.
What is most helpful to medical transcription is a good stockpile of words, or a “treasure house” you can say, where all the treasure are not gold, diamond or gems but words. Although some of you may be of the view that in reality there is no direct modality of monetizing your vocabulary, I do find it rewarding in blogging, especially with this blog; hence it is a wise area to invest in. How to invest in words? Quite simple. Read, read and read. May be you’re giving a sarcastic look at me while I’m saying this with a thought in your deep mind, “where the hell do I have time for all these humbugs amongst my busy medical transcription career?” but it’s a fact that reading will still make you a better medical transcriptionist. There is nothing that stimulates the mind more than reading. Any reading material, curt or extensive, as long as knowledgeable, is a source of wealth of words. However, don’t just read for the sake of reading. Learn from it. For every new word that you come across, refer it in the dictionary. Know its meaning and pronunciation. Memorize the spelling. Try using it in a sentence in a conversation. If unable to memorize the meaning, try the thesaurus to find a synonym; after all, the thesaurus literally means “treasury.” For example, the word “urticaria” has synonymous terms of “hives,” “nettle rash,” “urtication,” etc., and related words of “wheals,” “rash,” “roseola,” “efflorescence,” etc. A patient suffering from allergic reaction is prone to manifest these and the dictation may come across any of these. Similarly the word “nervous” is in synonymous with “anxious,” “worried,” “edgy,” “jumpy,” “panicky,” “tense,” “uneasy,” “nervy,” “agitated,” etc., and antonymous with “calm.” The dictation may not always contain all, but word association and synonyms and antonyms would help you with your hindsight. You can actually second-guess what the physician is going to say; although it is not allowed to supplant the doctor’s words with your own, but that word you could not decipher from the dictator could be solved by scrounging your memory bank. (Let’s hope the physicians dictate in accordance with the guidelines provided in Tips for Dictating Physicians).
Therefore, feed (nurture and nourish) your mind. Do some extra reading (peruse and probe). Befriend (associate and fraternize with) Webster and Roget and their internet equivalents. Investing in all these little extras in the long run will amount to a huge advantage not only in your medical transcription career but also in other areas where communication and proficiency are crucial. The positive repercussions are endless which include but not limited to writing understandable e-mails and letters, communicating your thoughts in business meetings, writing better research papers, giving memorable speeches that make long–lasting impressions etc. Allowing your eyes and mind to immerse in a company of words is personally and professionally enriching and empowering.
To sum it up, here is a list to do on “How to improve your vocabulary?”
1. Learn words of your vocation: To begin with, start learning the words more of your trade language – the words that are commonly used in your business or vocation. Find better, clearer words to express your thoughts.
2. Dedicate and prioritize learning new words:
|
|
To improve your word-hoard quickly and effectively, there should be self determination. Where there is a will, there is a way! Determine to add one new word every day or two to your vocabulary. For the ease of it, you may subscribe to any “word of the day” mailing list available on the internet to be delivered in your inbox or desktop.
3. Dedicate some time for reading: There is no better way to improve your vocabulary than to read books. Read whatever you can; whenever you get some idle time, read a variety of genres, no matter it is poetry, fiction or novel or any interesting article on the Internet. Forget these, hope you have the habit of grazing the dailies at least. While reading, whenever you come across a new word, refer the thesaurus, know the synonyms, and write it down to use it later. Try the crossword puzzles in the dailies. Even a word puzzle game with kids is a great idea!
4. Learn wherever you are: Watching TV, films or news and listening to the radio or music? Came across a new word that teased your brain? Note it down. Found a new word on an outdoor hoarding while on the freeway or train? Memorize it at that instant. Refer these in the thesaurus/dictionary later.
5. Use the so learned words: Any tool seldom used gathers rust and dust and finally becomes useless, our vocabulary too, which is a powerful tool. Pick the appropriate word and use it when writing something. Use the dictionary frequently, which will help you express better. Each time you do that, you learn a new word and will start using it. Try using the so found words in a conversation whenever possible. Compare the usage of these new words in British V/s American English; it may be fun to learn.
If you are already in the efforts of doing any of these, then you are on the right track to reap its rewards; else, today is the best day to start.
Add comment January 17, 2008